Bismillah.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr : 1-3)

Seorang muslim tentu mengharapkan kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Kunci keberuntungan dan keselamatan itu telah dijelaskan di dalam al-Qur’an. Hal itu adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123)

Kebahagiaan hanya bisa diperoleh dengan bekal iman. Tanpa keimanan kebaikan dan amal salih hanya akan sirna dan hancur pada saat kita membutuhkan pahalanya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan, lalu Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)

Iman juga tidak cukup hanya dengan ucapan lisan atau penampilan yang menawan. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu hanya dengan angan-angan atau memperindah penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan-amalan.” Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabb mereka semata mereka itu bertawakal.” (al-Anfal : 2)

Para ulama menjelaskan bahwa iman itu mencakup :

  • Keyakinan di dalam hati
  • Ucapan dengan lisan
  • Amal dengan anggota badan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam beribadah kepada Allah, seorang mukmin memadukan di dalam dirinya tiga hal :

  • Rasa takut/khouf
  • Rasa cinta/mahabbah
  • Rasa harap/roja’

Inilah tiga pilar ibadah hati. Tidak akan benar ibadah tanpa terkumpulnya ketiga hal ini dalam diri seorang muslim. Maka keimanan itu menuntut seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan apa-apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya. Melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka seorang yang beriman melakukan amal salih dengan harapan amalnya diterima dan takut apabila amalnya tertolak.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin memadukan dalam dirinya antara berbuat kebaikan/ihsan dan merasa takut. Adapun orang kafir memadukan dalam dirinya antara berbuat buruk dan merasa aman.” Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; mereka semuanya khawatir dirinya terjangkiti kemunafikan. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan imannya setara dengan imannya Jibril dan Mika’il.”

Pembinaan iman inilah yang harus terus kita lakukan dalam diri kita pribadi, di tengah keluarga, dan di tengah masyarakat. Karena tanpa keimanan, kehidupan dunia ini hanya akan pergi meninggalkan kita dengan mewariskan penyesalan dan siksaan. Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Telah pergi para pemuja dunia dalam keadaan mereka belum menikmati sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya, “Apakah itu yang terbaik di dalamnya?” beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

Semoga catatan singkat ini bermanfaat bagi kita semuanya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Kantor YPIA, Jum’at 19 Dzulqa’dah 1441 H / 10 Juli 2020

Redaksi YPIA.OR.ID

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

× Chat Whatsapp