Sejarah YPIA

Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari –selajutnya disebut YPIA– merupakan sebuah lembaga dakwah yang berpusat di Yogyakarta. Lembaga ini beralamat di dusun Pogung Kidul, desa Sinduadi, kecamatan Mlati, kabupaten Sleman, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kantor sekretariat yayasan terletak di wisma Darut Tauhid, Pogung Kidul 9C (200 m sebelah utara Fakultas Teknik UGM).
Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsari

Sebelum diresmikan sebagai Yayasan, lembaga dakwah ini bernama LBIA (Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary). Sewaktu masih berbentuk lembaga, kegiatan dakwah dan pendidikan yang dikelola tidak sekomplek ketika sudah berbentuk yayasan. LBIA dirintis oleh beberapa ustadz dan mahasiswa serta alumni. Di antara pelopor berdirinya lembaga ini adalah; Ust. Abu Sa’ad, Ust. Kholid Syamhudi, Ust. Noor Akhmad Setiawan, Ust. Fauzan, Ust. Abu Yazid, Ust. M. Rofi’, dll.

LBIA sebagai lembaga dakwah mahasiswa ekstra kampus memiliki konsentrasi kegiatan pada pengadaan kajian-kajian dan pembelajaran bahasa arab dasar. Di antara kegiatannya adalah; DMMD (Daurah Muslim Muslimah Dasar), BADAR (bahasa arab dasar), dan MSA (Ma’had Sabtu Ahad).

DMMD merupakan rangkaian kajian intensif yang membahas materi-materi dasar keislaman yang sasaran utamanya adalah mahasiswa dan pelajar. Kegiatan ini dilaksanakan pada saat liburan akhir semester dengan menghadirkan pemateri ustadz-ustadz dari dalam maupun luar kota. Kegiatan ini diikuti oleh peserta putra dan putri yang datang juga dari dalam dan luar kota Yogyakarta.

BADAR merupakan rangkaian pelajaran bahasa arab dasar yang membahas materi kaidah-kaidah dasar untuk memahami bahasa arab dalam rangka membaca kitab para ulama. Kegiatan ini pada awalnya hanya diadakan pada masa liburan. Buku panduan yang digunakan adalah Muyassar (pemula), Mukhtarat-Sharaf (menengah), dan Mulakhosh (lanjutan). Masing-masing pelajaran/kelas diampu oleh pengajar dari pondok ataupun dari alumni. Jumlah peserta putra dan putri setiap kegiatan BADAR cukup banyak, bervariasi antara 50 sampai 100 orang lebih. Uniknya, kegiatan BADAR ini tidak hanya diminati kalangan mahasiswa, bahkan ada beberapa peserta yang sudah lanjut usia, dan ada pula dosen yang mengikutinya.

MSA merupakan cikal bakal berdirinya Ma’had Al-‘Ilmi yang menjadi sarana penggemblengan mahasiswa dan kader pilihan yang diharapkan bisa menjadi penggerak dakwah di masa depan. Selain materi aqidah, peserta juga dibekali dengan pemahaman fikih, hadits dan materi dasar lain yang juga penting. Syarat untuk bisa mengikuti program ini adalah memiliki kemampuan dasar membaca kitab. Seiring dengan berjalannya waktu, MSA dirubah menjadi Ma’had Al-‘Ilmi dengan jumlah pelajaran yang lebih banyak dan pengajar yang lebih banyak pula.

Selain ketiga kegiatan di atas, LBIA juga telah merintis pengembangan situs dakwah muslim.or.id yang dimotori oleh akh Amrullah Akadhinta, Satria Buana, Ibnu Mundzir dan rekan-rekan yang lain. Tanggapan atas media dakwah di dunia maya ini pun cukup menggembirakan dengan munculnya berbagai tulisan dan nasehat yang bisa dimuat di dalamnya serta dapat diakses oleh setiap pengguna internet di mana pun berada.

Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari

YPIA merupakan kelanjutan dari LBIA dengan menambahkan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat untuk pendidikan dan dakwah bagi kalangan mahasiswa pada khususnya maupun bagi kaum muslimin secara umum. Kegiatan-kegiatan baru yang sebelumnya belum tergarap antara lain adalah pendirian radio dakwah, program dakwah di kawasan bencana, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya yang terakhir, YPIA memiliki 4 bidang konsentrasi kegiatan, yaitu; pendidikan, dakwah, humas, dan kemuslimahan. Untuk bidang pendidikan, YPIA membentuk 4 divisi; Ma’had al-‘Ilmi, Ma’had Umar Bin Khattab (yang dahulu hanya berupa panitia BADAR), Ma’had Syabaabul Masjid (untuk mengkader aktifis masjid), dan Wisma Muslim (untuk menampung teman-teman mahasiswa yang ingin mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk belajar dan mengaji). Untuk bidang dakwah, YPIA membentuk 4 divisi, yaitu; Kajian Umum, Khutbah Jum’at dan Kultum, FKIM (Forum Kajian Islam Mahasiswa), dan Ketakmiran. Adapun untuk bidang humas, YPIA membentuk 5 divisi; Buletin dakwah, Web dakwah, Radio muslim, Pengembangan teknologi informasi (IT), dan bagian Eksternal. Untuk bidang kemuslimahan, kegiatan yang ada dibagi ke dalam 3 divisi; dakwah, buletin, dan perpustakaan. Khusus untuk kemuslimahan ini diwadahi dalam forum yang disebut dengan FKKA (Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari)

Jogja dan perkembangan dakwah Salafiyah

Sebuah realita yang tidak dipungkiri, bahwa Jogja adalah salah satu kota yang menjadi pusat perkembangan dakwah salafiyah di tanah air. Beberapa institusi pendidikan yang dibangun di atas manhaj salaf telah mewarnai dunia pendidikan yang ada. Peserta didik yang mengikutinya juga datang dari berbagai penjuru daerah. Hal ini sesuatu yang wajar mengingat Jogja merupakan kota pelajar dimana banyak pelajar dan mahasiswa yang datang dari berbagai daerah ada di situ. Di antara bukti yang menunjukkan adanya perkembangan dakwah salafiyah di kota ini adalah menjamurnya berbagai majelis ilmu terutama di sekitar kampus-kampus yang ada.

Kenyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa usaha untuk mengoptimalkan program-program dakwah yang ada di kalangan mahasiswa juga memiliki peran penting dalam membangun masa depan dakwah islam di negeri kita ini. Karena para mahasiswa yang belajar di kota ini akan tersebar ke berbagai penjuru negeri. Tentu saja, bukan kemajuan materi semata yang menjadi cita-cita dan harapan utama umat ini yang diletakkan di atas pundak mereka, akan tetapi kekokohan iman, kelurusan cara beragama dan keluhuran akhlak itulah yang senantiasa didambakan oleh para orang tua muslim yang sejati.

Generasi muda yang sarat dengan cita-cita, tak selayaknya ditelantarkan pendidikannya. Apabila kerusakan moral dan akhlak telah menghantui umat masa kini, maka menseriusi pendidikan dan dakwah bagi generasi muda adalah solusi. Amat disayangkan, jika para orang tua sangat serius memperhatikan urusan dunia dan materi anak-anaknya, namun mereka lalai dari pembekalan ruhani dan tarbiyah keimanan bagi putra-putrinya yang notabene bersekolah di perguruan tinggi non-agama. Hal ini semakin bertambah memprihatinkan, tatkala ternyata di sebagian perguruan tinggi islam yang ada para mahasiswa dan dosen-dosennya telah terkontaminasi dengan gaya hidup dan cara berpikir yang menyimpang. Allahul musta’aan.

Comments (2)

  1. assalamu’alaikum mau nanya apakah di semarang dan bekasi ada yayasan yg memiliki program serupa seperti ypia, terimakasih

    • Wa’alaykumussalaam..

      Utk program yang sama persis seperti YPIA Yogyakarta, Allaahu a’lam, kami tidak mengetahuinya. Mungkin bs lebih rinci lagi, program semacam apa yang dicari, mungkin kami bs bantu.

Komentar anda?