Sleman — Alhamdulillah, Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA) telah menyelenggarakan Evaluasi Kerja Tengah Tahun YPIA 2026 pada Rabu–Kamis, 12–13 Agustus 2026 di Grha Nur Ramadhan, Sleman. Kegiatan ini menjadi momentum untuk meninjau capaian selama enam bulan pertama tahun 2026 sekaligus menyelaraskan langkah dan prioritas YPIA untuk semester berikutnya.
Evaluasi kerja ini diikuti oleh jajaran Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Pengurus Harian, serta staf dari berbagai bidang. Kegiatan turut dihadiri oleh anggota Dewan Pembina Ustaz Afifi Abdul Wadud, B.A., Ustaz Abu Salman, B.I.S., Ustaz Ir. Noor Akhmad Setiawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, dan Bapak Raden Indra Pratomo Purnomo, S.T., M.Eng., serta anggota Dewan Pengawas Ustaz Abdussalam Busyro, Lc. dan Ustaz Yulian Purnama, S.Kom. Sebanyak 37 peserta mengikuti kegiatan pada hari pertama, sedangkan hari kedua diikuti oleh 38 peserta.
Kegiatan diisi dengan pemaparan capaian setiap bidang, alignment session, diskusi, serta Ruang Aspirasi. Melalui rangkaian tersebut, para peserta meninjau perkembangan program sekaligus membahas berbagai tantangan dan kebutuhan organisasi.
Menyatukan Arah untuk Langkah Berikutnya
Pada hari pertama, evaluasi difokuskan pada Bidang Pendidikan Nonformal, Pendidikan Formal, Kemuslimahan, dan Kesekretariatan. Setiap bidang mempresentasikan capaian, perkembangan program, serta berbagai hal yang perlu ditindaklanjuti pada periode berikutnya.
Dalam sambutannya, Ketua Umum YPIA, Ustaz Ari Wahyudi, S.S., menegaskan peran Ustaz Faizal Hanafi, S.S. sebagai Wakil Ketua Umum YPIA periode 2026–2030 dalam memperkuat koordinasi antarbidang dan menyempurnakan tata kelola yayasan.
Selanjutnya, Ustaz Faizal Hanafi, S.S. menyampaikan draf visi dan misi baru YPIA dalam alignment session. Arah baru tersebut disusun untuk memperkuat kontribusi YPIA dalam penyelenggaraan pendidikan Islam, baik formal maupun nonformal. Evaluasi rutin bersama Dewan Pembina dan Dewan Pengawas juga akan terus dilakukan untuk menjaga keselarasan arah organisasi dan mempercepat tindak lanjut atas berbagai kebutuhan yayasan.
Menjaga Mutu Pendidikan dan Menyiapkan Regenerasi
Sejumlah perkembangan positif terlihat pada Bidang Pendidikan Nonformal. Ma’had Al-‘Ilmi telah menyelesaikan kurikulum fikih, sementara Kampus Tahfizh mencatat pertumbuhan jumlah peserta hingga sekitar tiga kali lipat melalui sejumlah program inovatif.
Di tengah perkembangan tersebut, pendidikan nonformal masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya manusia dan perubahan minat peserta terhadap program tatap muka. Dalam diskusi, muncul gagasan untuk menyusun program penghubung atau bridging kurikulum yang lebih sesuai dengan karakter mahasiswa dan generasi muda. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mereka mempelajari Islam secara lebih mudah dan bertahap.
Pada Bidang Pendidikan Formal, BPH Yaa Bunayya mencatat capaian target program sebesar 93,62 persen selama semester pertama. Kurikulum SMPI Yaa Bunayya juga telah dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan layanan pendidikan.
Pengembangan tersebut masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, komunikasi dengan masyarakat sekitar perlu terus dibangun agar keberadaan lembaga pendidikan dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi lingkungan. Perhatian terhadap kesejahteraan guru juga menjadi bagian penting dalam peningkatan mutu pendidikan.
Sementara itu, evaluasi Bidang Kemuslimahan diarahkan pada penguatan kaderisasi dan pembinaan santriwati di lingkungan wisma. Salah satu langkah yang disepakati adalah memperkuat peran musyrifah atau pengasuh agar pendampingan santriwati, termasuk dalam pembinaan karakter dan komunikasi sehari-hari, dapat berjalan lebih optimal.

Membangun Sistem Kerja yang Lebih Efektif
Pada sesi Bidang Kesekretariatan, pembahasan berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi kerja. Di antaranya adalah penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan dalam pekerjaan administratif serta penerapan Objectives and Key Results (OKR) untuk membantu pemantauan produktivitas staf secara lebih terarah.
Langkah tersebut diharapkan dapat meringankan pekerjaan administratif sekaligus membentuk budaya kerja yang lebih efektif dan terukur. Selain itu, setiap karyawan yang mengikuti pelatihan didorong untuk membagikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh kepada karyawan lainnya agar manfaat peningkatan kapasitas dapat dirasakan secara lebih luas.
Memperluas Dakwah dan Memperkuat Kemandirian Finansial
Memasuki hari kedua, evaluasi dilanjutkan dengan pemaparan dari Bidang Donasi-Usaha, Dakwah, Media, dan Keuangan.
Bidang Donasi-Usaha melaporkan realisasi donasi operasional selama semester pertama sebesar Rp1,36 miliar. Sementara itu, unit usaha mencatat laba bersih sebesar Rp30,4 juta. Pengembangan sumber pendanaan selanjutnya akan diarahkan pada penguatan sistem fundraising, optimalisasi kotakinfaq.com, dan peningkatan hubungan dengan para donatur.
Penataan koordinasi juga dibahas agar pengelolaan donasi dan usaha dapat berjalan lebih efektif serta terintegrasi dengan bidang-bidang terkait. Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar YPIA untuk membangun kemandirian finansial secara bertahap.
Di sesi Bidang Dakwah, perhatian utama diarahkan pada upaya menghadirkan program yang semakin relevan bagi mahasiswa di tengah perubahan karakter generasi muda. Sejumlah program terus berjalan, termasuk Kajian The Hawariyyun dan Forum Ustaz Jogja Mengkaji. Adapun kaderisasi Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) menjadi salah satu prioritas untuk menjaga keberlanjutan dakwah mahasiswa.
Upaya memperluas manfaat dakwah turut dilakukan melalui pengembangan media. Selain mempertahankan operasional Radio Muslim Jogja selama 24 jam, YPIA tengah menyiapkan fitur berbasis kecerdasan buatan bernama “Tanya Muslim.or.id”. Inovasi ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi keislaman. Di samping itu, YPIA juga berencana menata sistem produksi konten agar lebih terintegrasi, efektif, dan proporsional dalam pembagian beban kerja.
Adapun pada sesi Bidang Keuangan, disampaikan bahwa kondisi keuangan YPIA selama Januari–Juni 2026 mencatat surplus sebesar Rp134,9 juta. Selain meninjau kondisi keuangan, pembahasan menekankan pentingnya tata kelola yang tertib, transparan, dan terintegrasi. Sinkronisasi data antarunit diperlukan agar keputusan dapat diambil berdasarkan informasi yang akurat.

Dari Evaluasi Menuju Langkah Nyata
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Ruang Aspirasi yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menyampaikan saran, kritik, dan gagasan bagi perkembangan YPIA. Sesi berlangsung dalam suasana santai sembari menikmati teh, kopi, dan camilan.
Dari keseluruhan rangkaian evaluasi, terdapat lima arah utama yang menjadi perhatian YPIA pada semester berikutnya, yaitu penguatan tata kelola, kaderisasi, kemandirian finansial, pengembangan dakwah mahasiswa, dan optimalisasi teknologi.
Berbagai gagasan tersebut diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program dan sistem kerja yang lebih terarah. Setiap bidang juga diharapkan dapat bergerak dalam satu arah, saling mendukung, dan memberikan kontribusi terbaik bagi keberlangsungan pendidikan dan dakwah Islam.
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan pertolongan kepada seluruh keluarga besar YPIA dalam menjalankan amanah, memperbaiki kekurangan, serta mengembangkan berbagai kebaikan. Aamiin.



